Tampilkan postingan dengan label Review Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Novel. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 19, 2017

Momiji by Orizuka ~ Review Buku




Judul Buku : MOMIJI
Penulis : Orizuka
Penyunting : Selsa Chintya
Desainer Sampul : @kammaliar
Penyelaras Aksara : Brigida Ruri
Layout Sampul : @fadiaaaa_
Penerbit : Penerbit Inari
Terbit : Mei 2017
Halaman : 210
ISBN 978-602-60443-8-9



~ Blurb ~


Patriot Bela Negara lelah punya nama seperti itu, terutama karena dia memiliki fisik dan mental yg sama sekali tidak seperti patriot, apalagi yg siap membela negara.


Seumur hidupnya, Patriot diolok-olok hingga akhirnya, dia memutuskan memberontak. Dia jadi gandrung Jepang, belajar bahasa Jepang, dan punya cita-cita pergi ke Jepang untuk bertemu Yamato Nadeshiko--tipe wanita ideal versi Jepang.


Di usianya yang kedua puluh, Patriot akhirnya berada selangkah lebih dekat dengan cita-citanya itu. Dia menginjak Jepang untuk ikut program pendek musim gugur di Osaka dan beruntung baginya, orangtua inang tempat homestay punya anak gadis seusianya!


Shiraishi Momiji, gadis itu, mungkin adalah buah penantiannya selama ini. 


... Atau mungkin bukan. 


*** 



~ Review ~



Mendengar nama Patriot Bela Negara mungkin kita akan membayangkan sosok cowok tegap berdada bidang, memiliki sifat berani dan berjiwa pemimpin. Namun, cowok bernama Patriot Bela Negara dalam kisah ini berbanding terbalik dengan bayangan kita. Patriot malah memiliki tubuh kurus kering berkulit pucat dan alergi debu, ia mewarisi kepribadian ayahnya yang kikuk dan sulit berekspresi. Gara-gara ironi itu, Patriot jadi bahan guyonan sejak kecil.  

Patriot, yang lebih suka dipanggil Pabel, lelah dengan trauma akan namanya sendiri, dan membuatnya memberontak. Pabel bertekad pergi ke Jepang untuk meninggalkan sejenak kekacauan yang dibuat namanya itu. Dan alasan lainnya adalah ia ingin bertemu dengan gadis yang tidak tahu arti namanya, gadis yang tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap dirinya. Gadis Yamato Nadeshiko impiannya.

Pabel berusaha keras untuk mewujudkan tekadnya dengan bertahun-tahun les bahasa Jepang dan kuliah di jurusan Sastra Jepang. Ia juga mati-matian menabung untuk ikut program pendek di sebuah sekolah bahasa swasta karena tidak sabar menunggu beasiswa. Hingga pada usia kedua puluh ia berhasil menginjak Jepang untuk mengikuti program pendek musim gugur di Osaka. Dan di sana ia bertemu Momiji, anak gadis orangtua inang tempatnya homestay yang seusia dengannya. 

Momiji, berarti dedaunan yang berubah merah di musim gugur, identik dengan maple Jepang; dedaunan yang seolah memberikan rasa hangat di tengah dinginnya musim itu. (hal.8)

Sayangnya, sosok Momiji yang dijumpai Pabel berbanding terbalik dengan harapannya. Momiji yang baru pulang, setelah tiga tahun menghilang, datang dengan tampilan yankii, dengan rambut merah panjang dan megar. Pertemuan pertama keduanya benar-benar kacau. Momiji meneriaki Pabel sebagai pencuri susu, bahkan memukulnya dengan kepala pedang hingga Pabel pingsan! Momiji membuat hari-hari Pabel jungkir-balik karena ulahnya.

Pabel yang lemah bertemu Momiji yang kuat dan agak menyeramkan. Bagaimana jadinya ya? 
Apa saja yang akan dihadapi Pabel selama di Jepang? 
Akankah Pabel bertemu dengan Yamato Nadeshiko impiannya?


~ My Opinion ~

Membaca kisah ini, aku masih gagal membayangkan sosok Pabel yang berbanding terbaik dengan namanya. Mungkin karena selama ini kebanyakan baca novel yang tokoh cowoknya mempesona kali ya hahahaa.... Sikap gugup Pabel bikin geregetan deh, apalagi pas pertama kali ketemu Momiji, ngebayanginnya ya ampun... enggak deh. :D

Tentang sosok Momiji yang urakan dengan dandanan yankii-nya, terutama rambutnya yang merah megar, bikin aku ngebayangin tokoh film lama berjudul Megaloman wkwkwkwkk (ada yang pernah nonton nggak ya, soalnya tuh film jaman tahun 80-an gitu :D)



“Kau tampak lemah dan tidak berguna. Kau sasaran yang tepat untuk diganggu. Orang sepertimu butuh pengawalan. Jangan menolak penawaranku. Kau tidak akan menemukan pengawal sepertiku di mana pun.” ~ Momiji (hlm. 37)


Kasian banget Pabel... ternyata Momiji jauh dari bayangan sosok Yamato Nadeshiko impiannya. Apalagi Momiji mengajukan diri menjadi pengawal Pabel selama di Jepang, padahal melihat gadis itu aja Pabel udah ngeri! Bisa bayangin nggak gimana menegangkannya hari-hari Pabel bersama Momiji? Anehnya aku malah ketawa deh ngikutin kisah mereka wkwkwkkw :D

Membaca interaksi Pabel dengan Momiji ini bikin gemas juga ketawa. Gemas sama sikap gugup, kikuk, dan kakunya Pabel yang aduuuh, kayaknya nggak banget deh sebagai cowok. Apalagi kalau Pabel sudah bicara pake, "Anu....Anu..." saking gugupnya menghadapi Momiji yang galak, bikin aku makiiin geregetan deh!  Ditambah lagi cerita diambil dari sudut pandang Pabel, makin membuat kita bisa tahu apa yang dirasakan Pabel, tapi juga sekaligus geregetan.


Setting yang diambil di Jepang beserta kehidupan masyarakatnya menambah pengetahuan baru buat aku yang awam soal Jepang. Topik tentang tunawisma, yankii, dan geng motor sekilas diulas dalam novel ini. Dan yang paling menjadi surprise adalah sosok Nanami-san, ibu Momiji, yang terungkap menjelang akhir cerita. 

Dari tokoh yang ada, Nanami-san jadi tokoh favoritku. Tipe ibu-ibu Jepang yang sangat perhatian. Sikap lembutnya pada Pabel bikin tersenyum membayangkannya, bisa dibilang sebagai penawar dari sikap galak dan menyeramkannya Momiji yang harus Pabel hadapi setiap hari. Walaupun sikap Nanami-san pada Momiji, setelah kepulangan Momiji yang menghilang selama tiga tahun, tidak seperti ibu terhadap anaknya. Tapi itu bisa dimaklumi, karena Nanami-san juga punya maksud baik di balik sikap kerasnya pada Momiji. Dan fakta tentang masa lalu Nanami-san bikin aku bergumam 'whoaa!'. Mau tau kenapa? Ayo baca novelnya! :D


Momiji adalah novel keempat yang kubaca dari karya Orizuka. Secara keseluruhan ceritanya menarik, lucu, dan menghibur. Walaupun terasa masih kurang karena kebersamaan Pabel dan Momiji seakan dipercepat ketika cerita langsung lompat setelah 24 hari kemudian. Saat-saat Pabel dan Momiji mulai berdamai dengan masalah mereka masing-masing terasa kurang panjaaaang. Dan, walaupun sikap tokoh cowoknya bukan tipe yang ku suka, tapi kita bisa belajar dari sosok Patriot Bela Negara yang mengaku tidak seperti Patriot ini. Dari Pabel kita belajar tentang usaha keras untuk mewujudkan tekadnya pergi ke tempat yang diinginkan. Juga untuk tidak minder dengan kekurangan diri sendiri dan tetap semangat, karena masing-masing kita memiliki kelebihan lain di balik kekurangan itu. Dari Momiji kita belajar tentang kemauan untuk mendengarkan pendapat/penilaian orang lain, juga semangat untuk kembali bangkit dari keterpurukan yang pernah dialami.



Tiga Love ♥♥♥ buat Pabel & Momiji 



~~~ ♦♦♦ ~~~


Salam

Nunaa Lia ^_^


Kamis, Januari 12, 2017

Sebelas Menit Terpenting Di Pertemuan Pertama ~ CRITICAL ELEVEN by Ika Natassa || Review Novel


CRITICAL ELEVEN

Penulis: Ika Natassa
Editor: Rosi L Simamora
Desain sampul: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 344 halaman
ISBN: 978-602-03-1892-9 
Harga: 47k (Grobmart.com event Halbolnas)


~ Blurb ~

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.  

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya atau, justru keduanya.


~ ♦♦♦ ~ 

~ Meet The Author ~

Critical Eleven adalah novel pertama yang aku baca dari karya Ika Natassa. Karena itu, seperti biasa kita akan sedikit mengenal sang penulis yaa. Seperti kata pepatah, "Tak kenal maka tak sayang". 😉

Ika Natassa ternyata seorang banker loh, temans. Banker yang hobi menulis dan fotografi. Dari hobinya itu Mba Ika sudah membuahkan banyak karya. Critical Eleven adalah novel ke tujuhnya. Dari karyanya dibidang menulis ini, Ika Natassa pernah mendapatkan penghargaan dari Majalah Cosmopolitan. Dan dia pun pernah memperoleh penghargaan Woman Icon dari The Marketeers.
Mau kenal lebih jauh dengan penulis satu ini? Sila follow dan kepoin twitter @ikanatassa
 ~ ♦♦♦ ~

 R  E  V  I  E  W

~ The Story Line ~

Critical Eleven berkisah tentang kehidupan pernikahan Ale dan Anya. Mengalami kisah pertemuan pertama yang manis dan berkesan dalam penerbangan Jakarta-Sydney, berpacaran sebulan setelah pertemuan pertama itu (lebih tepatnya setelah bertemu intens selama tujuh hari), dan memutuskan menikah setahun kemudian. Pernikahan mereka sangat bahagia, keduanya saling mencintai dan memuja satu sama lain, meskipun harus tinggal berjauhan selama beberapa waktu setiap bulannya karena pekerjaan Ale.

Namun di tahun ke empat, pernikahan keduanya ditempa badai. Sebuah kehilangan membuat keduanya sama-sama terluka. Dan satu perkataan yang keluar dari mulut Ale membuat Anya makin kecewa dan terluka hingga membuatnya membenci Ale, dan  memilih menjaga jarak dengan Ale. Ale yang merasa bersalah pun hanya bisa mengikuti keinginan Anya. Mereka hidup satu atap namun tak saling sapa, bahkan tidur di kamar terpisah.

Anya yang merasakan sakit hati berkepanjangan dan tidak lagi merasakan apa itu bahagia mulai tidak yakin dengan kelanjutan hubungan mereka. Sementara Ale yang masih sangat mencintai Anya, ingin menebus kesalahannya dan berusaha mempertahankan apa yang sudah mereka miliki selama ini.

Mampukah Ale mendapatkan maaf Anya dan meraih kebahagiaan mereka lagi?
Apakah waktu satu tahun berpacaran, empat tahun menjalani pernikahan, dan enam bulan masa-masa terburuk yang mereka jalani setelah kehilangan itu, akan menjadi critical eleven dalam hubungan mereka?

~ About The Cover ~

Entah apakah pendapat kalian sama denganku ketika melihat cover novel ini pertama kali. Gambar pesawat dipadu dengan judul 'Critical Eleven', membuat aku berpikir kalau novel ini akan berhubungan dengan cerita seperti di film Air Force One dan film sejenisnya yang berkisah tentang tragedi, ketegangan, dan konflik yang terjadi di dalam pesawat gitu. Namun ketika membaca sekelumit blurbnya, barulah tahu kalau ternyata perkiraanku meleset jauh! 😁 Walau begitu istilah critical eleven dalam penerbangan yang dipakai sebagai judul membuat cerita ini menarik perhatian.

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critcal eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat –tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing– karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah –delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu atau justru menjadi perpisahan.

~ Meet The Character ~


Dua tokoh utama dalam kisah ini adalah Ale dan Anya. Sepasang suami istri yang akan membagikan kisah mereka.

Aldebaran Risjad (Ale) bagi Anya adalah laki-laki yang di awal pertemuan irit ngomong, namun belakangan malah menjadi teman ngobrol yang menyenangkan dalam tujuh jam perjalanan Jakarta-Sydney. Ale punya satu kualitas yang jarang ia temui pada laki-laki lain. 

Dia bisa mengubah situasi secanggung apapun menjadi sesuatu yang seharusnya memang terjadi dan tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa. Seperti hujan yang sudah sewajarnya membasahi tanah. Atau api yang sudah seharusnya rasanya panas.
(hal.26)

Bagi Anya, Ale laki-laki yang berhasil membuatnya percaya bahwa wajar jatuh cinta hanya setelah tujuh hari. Laki-laki yang membuatnya tanpa ragu menerima lamarannya, walau jauh dari kata romantis. Bayangkan saja, Ale melamar Anya di mobil dalam perjalanan ke bandara di saat Anya sedang terkantuk-kantuk dengan supirnya sebagai saksi 😅
Ale membuat Anya begitu mudah untuk terus jatuh cinta setiap hari, bahkan ketika pria itu tidak ada di sisinya. Ale punya cara sendiri untuk mencintai Anya. Saat dia ada, bahkan saat dia tidak ada. Walaupun dengan segala kekurangannya dan keterbatasan mereka (keterbatasan waktu, hambatan geografis), Ale mampu membuat Anya merasa dicintai begitu besar. Ale memiliki kriteria laki-laki idaman Anya: main twitter tapi nggak norak, diam tapi perhatian, ganteng tapi nggak sadar dia ganteng, dan hobi kopi yang cocok banget dengan Anya yang tergila-gila minum kopi.
Namun... Ale juga laki-laki yang membuatnya benci hanya dengan satu kalimat. Membuat Anya sakit hati dan terluka berkepanjangan karena menyalahkannya atas kehilangan yang mereka alami. Laki-laki yang kini berusaha ia hindari. Yang kenangan indah tentangnya berusaha Anya lupakan.

Tanya Laetitia Baskoro (Anya) bagi Ale adalah wanita cantik, pake banget, memiliki mata yang sangat Ale sukai, mata yang selalu terlihat seperti tersenyum. Perempuan yang membuat Ale langsung suka di pertemuan pertama mereka, dan membuat Ale ingin bertemu lagi dengan Anya.

 Anya punya kualitas yang tidak semua orang beruntung memilikinya: dia dengan gampangnya membuat gue nyaman di dekatnya, walau kami baru kenal saat itu juga. Gue suka.
(hal.137)

Bagi Ale, Anya perempuan yang membuatnya lebih sering pulang ke rumah orangtuanya, ketika mengejar cinta Anya, setelah sebelas tahun lebih memilih traveling saat libur dari pekerjaannya karena menghindari berdebat dengan ayahnya dan membuat ibunya menangis. Perempuan yang membuat Ale rela menghabiskan tabungannya untuk membuat rumah yang nyaman untuk mereka tinggali setelah menikah. Perempuan yang mau menerimanya menjadi kekasih, dan selanjutnya menjadi suami meskipun dengan resiko menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaan Ale yang mengharuskannya berada di Teluk Meksiko selama 5 minggu, dan baru bisa bertemu dan bersama 5 minggu berikutnya.
Sayangnya... kini Anya membangun tembok tinggi di sekelilingnya untuk menghindari Ale.  Bersikap dingin, dan enggan berbicara dengan Ale, bahkan menganggap Ale tidak ada, akibat ucapan bodoh Ale yang membuat Anya sakit hati. Meskipun begitu, Ale tetap berada di sisi Anya, tanpa peduli sebesar apa usaha Anya untuk menjauhkan dan menjauhinya. Karena Ale mencintainya tanpa rencana, tanpa jeda, tanpa terbata-bata.

"Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harusnya kuat hidup untuk dia. Rela mati sih gampang, dan bego. Misalnya demi menyelamatkan istri lo, lo rela mati. Lo merasa udah jadi pahlawan kalau udah begitu, egois itu. Setelah lo mati, yang melindungi dan menyayangi istri lo lantas siapa? Lo meninggal dan istri menangisi lo karena nggak ada lo lagi, itu yang dibilang pahlawan? Seharusnya kalau lo memang benar-benar sayang, lo rela mengorbankan apa aja demi istri lo, tapi lo juga harus berjuang supaya lo tetap hidup dan tetap ada buat dia. Itu baru bener." 
(hal.324-325)

~ My Opinion ~

Critical Eleven mempertemukan kita dengan Anya dan Ale yang menceritakan kisah perjalanan cinta mereka. Anya dan Ale membawa kita melihat bagaimana awal mereka bertemu, yang bisa termasuk dalam kategori meet-cute dalam film romantic comedy Hollywood. Melalui masa-masa pacaran, momen lamaran yang jauh dari kata romantis, dan menjalani kehidupan pernikahan. Semuanya diceritakan secara bergantian menggunakan sudut pandang orang pertama, Anya dan Ale. Sangat menarik karena kita bisa merasakan ikut tersenyum saat mereka mengalami momen bahagia, dan juga ikut merasakan sedih ketika mereka menjalani fase kesedihan.

Namun jangan berpikir cerita akan berjalan secara berurutan. Sebaliknya, setiap kisah diceritakan secara acak. Kita akan diajak oleh Anya dan Ale untuk flashback ke masa-masa yang sudah mereka lewati itu. Alur campuran ini sempat membuat aku tertipu di bab awal. Di awal bab pertama, Anya bercerita tentang pertemuannya dengan Ale di pesawat. Namun di akhir bab aku baru tahu kalau ternyata itu hanyalah kilasan kenangan tentang pertemuan pertama mereka. Penggunaan alur campuran ini menarik dan unik karena menjadi kepingan puzzle yang akan merangkai cerita di akhir kisah. Sayangnya, terkadang membuat bingung dan sedikit terkecoh karena tidak ada perbedaan dalam teknik penulisan untuk membedakan masa lalu dan masa kini. Kalau tidak fokus akan butuh dua kali membaca supaya bisa 'ngeh. Itu pengalamanku. 😁 

Di awal bab kita masih akan bertanya-tanya sebenarnya apa yang membuat hubungan Anya dan Ale menjadi buruk. Barulah di bab kelima masalah yang menjadi konflik di antara mereka terkuak. Gemas juga melihat cara Anya dan Ale menghadapi masalah mereka ini. Kenapa mereka harus memendam 'api dalam sekam' ini hingga 6 bulan? Betah banget! Padahal sebagai suami istri, mereka seharusnya menyelesaikan masalah ini secepatnya. Apalagi mereka harus menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaan Ale. Apa mereka tidak khawatir akan ada masalah lain yang datang yang bisa saja memperkeruh konflik mereka? Orang ketiga misalnya? Atau bisa saja yang lebih buruk, seperti kecelakaan yang dialami Ale dalam pekerjaannya, atau dalam perjalanannya yang panjang?

Karena melihat sikap Anya dan Ale itu, membuat aku tidak memberikan mereka predikat tokoh favorit dalam kisah ini. Sama seperti kebanyakan orang yang sudah membaca novel ini, aku setuju dengan pendapat mereka yang memfavoritkan Bapak Jenderal Rinaldy Risjad. Ayah Ale ini diam-diam menghanyutkan. Sedikit bicara, namun saat bicara kata-katanya bijak dan penuh makna. Interaksinya dengan Ale setelah bertahun-tahun hubungan mereka renggang membuat kita tersenyum. Ayah Ale bahkan tahu jika hubungan Ale dan Anya mengalami masalah meskipun mereka berdua tidak pernah menceritakannya. Dan dengan bijak Ayah pun mendorong Ale untuk memperjuangkan pernikahannya dengan Anya, seperti dulu Ale berjuang habis-habisan untuk memperoleh apa yang dia mau sampai dapat dan tanpa perduli meski harus berkonflik dengan ayahnya.

“Kalau kita sudah memilih yang terbaik, seperti ayah memilih ibu dan kamu memilih istri kamu, seperti kita memilih biji kopi yang terbaik , bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita.” (hal.56)

Dan filosofinya tentang kopi itu romantiiissss banget! Pantas aja kalau istrinya menjulukinya "Bapak Jenderal yang romantis." 😉

"Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami -yang membuat kopi- memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar. Aroma khasnya, rasa aslinya yang seharusnya tidak keluar, Le. Rasanya nggak pas. Butuh waktu lebih dari dua tahun dulu baru Ayah merasa sudah memperlakukan Ibu kamu sebagaimana seharusnya dia diperlakukan. Dari mana Ayah tahu sudah bisa? Dari perlakuan Ibu ke Ayah. Memang butuh belajar lama, butuh banyak salah dulu juga, tidak apa-apa. Yang penting kita tekun, sabar, penuh kesungguhan, seperti kita membuat kopi, Le. Bedanya dengan kopi, kalau kita sudah bingung dan putus asa, bisa cari caranya di Internet. Tinggal google. Istri tidak bisa begitu, harus kita coba dan cari caranya sendiri." 
(hal. 55-56)


Aku baru pertama kali membaca karya Mba Ika Natassa. Banyak sekali teori-teori dan kutipan menarik dalam novel ini. Penulisnya memiliki banyak referensi untuk semua hal yang dijabarkan dalam teori-teori yang informatif itu. Sangat menarik dan memberikan kita informasi dan referensi mengenai film dan buku. Penggunaan bahasa inggris juga banyak bertebaran di novel ini. Mungkin itu salah satu kekhasan sang penulis. Namun aku kurang menyukai pencampuran bahasa inggris dan bahasa indonesia dalam satu kalimat/paragraf. Kesannya seperti gado-gado. Mungkin akan lebih baik jika penggunaannya dibuat terpisah menjadi kalimat/paragrah masing-masing.

Ada hal yang membuat bertanya-tanya, adanya Jack, si husky dog yang dipelihara Ale. Lucu sih membayangkan Ale yang suka ngajak ngomong anjingnya itu, apalagi Jack juga digambarkan merespon dengan mimik seperti mengerti ucapan Ale. Tapi agak aneh saja jika sebagai muslim Ale memelihara anjing bahkan membiarkannya berkeliaran di rumahnya. Juga dengan Anya yang juga suka minum wine. Satu lagi, saat Ale akan menikah, Harris -adik Ale- mengajak Ale untuk bachelor party dengan minum-minuman. Padahal hal-hal itu kan termasuk yang diharamkan bagi muslim.

Overall kisah Ale dan Anya ini menarik dan seru untuk diikuti. Terlepas dari sikap mereka yang bikin geregetan dalam menghadapi konflik dan membuat chemistry mereka terkesan kurang, namun cerita-cerita perjalanan cinta mereka yang terurai dalam kepingan puzzle kenangan masing-masing bisa membuat kita tersenyum, tertawa geli, hingga iri. 😉 


Empat Love untuk Ale & Anya

💓💓💓💓
~ ♦♦♦ ~



CRITICAL ELEVEN ~ THE MOVIE



Kabar baik bagi penggemar novel Critical Eleven, karena cerita Ale dan Anya akan bisa dinikmati di layar lebar. Telah terpilih Reza Rahardian yang akan memerankan Ale sang tukang minyak, dan Adinia Wirasti sebagai Anya. Keduanya sudah malang melintang di industri perfilman Indonesia, dan akting mereka sudah tidak diragukan lagi. Walaupun aku awalnya membayangkan Raline syah yang menjadi Anya, hehehe...

Harapannya sih semoga filmnya lebih menggigit, karena terus terang interaksi Anya-Ale dalam novel terasa kurang chemistry di part alur maju. Mungkin karena komunikasi mereka kurang karena Anya yang ogah ngomong sama Ale. Untuk cerita-cerita flashback tentu saja menarik dan seru. Part di New York pastinya bagian yang paling ditunggu dalam filmnya.

Oya, melihat cover filmnya, aww! Sedikit berani ya?! Baru kali ini lihat cover film Indonesia yang se-hot ini. Kecuali film-film yang 'hot-hot' itu ya.

Overall semoga film-nya se-booming novelnya yaaa!
Good Luck! 😉

Salam
Nunaa Lia ^_^

~ ♦♦♦ ~ 

Resensi ini diikut sertakan dalam Lomba Resensi Critical Eleven


Jumat, November 11, 2016

Unexpected Wedding by Frisca Marth || Review Novel

 
Penulis: Frisca Marth
Penata letak: Tri Kuncoro P. H & Muhammad Oriza N
Desain sampul: Febryanto Nugroho
Jenis buku: Romance Keluarga
Penerbit: BukuOryzaee Publisher
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal buku: vi + 321 halaman
ISBN: 978-602-73305-0-4
Reward Giveaway Unexpected Wedding di atriadanbuku.blogspot.co.id 
20 - 26 November 2015

Jika saja Evelyn mencintai Ben, 
tentu hari ini akan menjadi hari yang tidak terlupakan seumur hidupnya... 

 
Evelyn Sanders tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan gadis kecil bernama Angelica akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Berawal dari keisengannya memberikan permen pada gadis kecil berusia tujuh tahun itu, Angelica lantas mengira bahwa Evelyn adalah Mommy yang telah lama pergi meninggalkannya. Di hadapan Ben, sang Ayah, Angelica memohon pada Evelyn untuk tetap tinggal bersama mereka.

Evelyn menjadi kelabakan. Dan semakin kelabakan ketika Ben benar – benar melamarnya demi sang buah hati, Angelica, yang ternyata mengidap penyakit yang cukup parah. Karena alasan itu pula, pada akhirnya Evelyn menerima lamaran lelaki itu.

Di tengah – tengah perjanjian pernikahan mereka, mampukah Evelyn menolak pesona Ben? Mampukan Evelyn tetap menjaga perasaannya untuk Billu, kekasih yang tengah berjuang memantaskan diri demi menjadi pendamping hidupnya? Lalu... apa yang akan terjadi ketika akhirnya Billy ...
 
~ ♦♦♦ ~
 
~ Review ~

Bagaimana rasanya jika pertama kali bertemu dengan seseorang, kamu langsung dipanggil "mommy"? Kaget? Bingung?

Itulah yang dialami Evelyn. Ketika pertama kali bertemu dengan Angelica, gadis kecil itu langsung memanggilnya mommy. Alasannya hanya karena Evelyn cantik, berambut panjang, dan memberinya permen saat bertemu dengan Angelica. Evelyn berusaha menjelaskan kesalahpahaman itu pada Angelica, namun gadis kecil itu langsung menangis sedih dan tiba-tiba saja pingsan.
Dari cerita Ben, ayah Angelica, terungkap kalau Angelica sudah ditinggal ibunya sejak usia 2 tahun, dan sudah setahun Angelica divonis menderita kebocoran jantung. Dia tidak boleh kelelahan, tidak boleh banyak berpikir, bahkan tidak boleh menangis. 

Ben yang sangat menyayangi putrinya dan melihat Angelica begitu sangat mengharapkan Evelyn menjadi ibunya, akhirnya melamar Evelyn untuk membahagiakan Angelica. Evelyn dilanda dilema. Disatu sisi ia sangat bersimpati pada penderitaan Angelica karena gadis sekecil itu sudah menanggung beban yang sangat berat. Di sisi lain Evelyn tidak bisa meninggalkan Billy, kekasihnya yang sedang belajar di luar negeri. Namun sisi keibuan Evelyn yang begitu besar kepada Angelica, akhirnya membawa Evelyn pada keputusan untuk menerima lamaran Ben, dan menjalani pernikahan pura-pura demi Angelica.

Apakah keputusan yang diambil Evelyn benar?
Apa yang terjadi ketika akhirnya Billy kembali?

~ ♦♦♦ ~ 

Kisah ini menyuguhkan cerita keluarga dan romance yang manis. Kita akan melihat ikatan ayah dan anak antara Ben dan Angelica yang begitu dekat. Ben mengasuh dan menjaga putri semata wayangnya sendirian sejak ibu Angelica meninggalkan mereka. Interaksi keduanya terkadang bikin tersenyum juga terharu. Beberapa kali aku dibuat meneteskan airmata dengan apa yang dirasakan Angelica. Gadis kecil itu membuat kita tersenyum dengan tingkah polahnya, dan juga meneteskan airmata dengan perasaan rindu terpendamnya akan sosok seorang ibu. Interaksi Evelyn dan Angelica pun tak kalah menghangatkan hati. Ketulusan Evelyn menyayangi Angelica benar-benar terasa. 
 
Dalam cerita ini konflik yang disuguhkan tidak terlalu berat. Hanya part yang berhubungan dengan saat Angelica kritis karena penyakitnya cukup membuat deg-degan dan meneteskan airmata. Konflik cinta yang terjadi juga tidak berbelit-belit, sedikit agak bisa ditebak alurnya, dan penyelesaiannya pun begitu mulus. Tokoh antagonis yang biasanya ada dalam suatu cerita pun, kurasa tidak ada. Semua tokoh dalam kisah ini begitu mengesankan dengan kepribadian mereka masing-masing.
 
Penggunaan Pov 3 membuat kita mengetahui lebih jelas apa yang dirasakan para tokohnya. Namun ada banyak pengulangan frase di beberapa part yang kadang sedikit membuat bosan. Ada penggunaan kata 'perempuan' yang ditujukan untuk Angelica yang dirasa kurang pas, karena akan lebih manis jika kata 'anak itu', 'bocah cilik', atau 'gadis kecil' yang dipakai untuk anak seusia Angelica.

Nama tokoh dan setting cerita ini menggunakan nama asing dan tempat di luar Indonesia, namun aku merasa cerita ini berasa Indonesia, mungkin karena keluarga Brown ini sering makan nasi goreng yang asli makanan Indonesia ya ahahaha :D

Aku tidak tahu apakah ini typo atau kesalahan saat pencetakan, karena banyak sekali dua kata yang tidak dipisahkan dengan spasi, hampir di setiap halaman. Sangat ganggu! ;(

Unexpected Wedding ini karya Prisca Marth yang pertama kubaca. Cukup membuat bahagia membacanya dengan kisahnya yang manis. Buat kamu yang suka dengan kisah pernikahan dan keluarga, kamu bisa baca novel ini, dijamin bakalan kepincut sama Ben yang romantis dan family man ;)

Salam
NunaaLia ^_^


 
 
 

Selasa, Maret 22, 2016

Merindu Cahaya de Amstel by ARUMI E ~ Kisah Sang Penangkap Cahaya || Review Novel



Assalamu’alaikum temans...! Apa kabar? Semoga selalu sehat yaa, amiin...
Selamat datang kembali di Catatan Nunaa. Di bulan maret ini ada novel yang baru saja selesai aku baca. Seperti review novel sebelumnya, novel ini juga hasil dari berburu giveaway di tahun 2015 kemarin. :D
Dan karena ini adalah novel pertama yang aku baca dari karya penulis yang satu ini, seperti biasa kita sedikit mengenal dulu tentang penulisnya yaa.
Novel Merindu Cahaya de Amstel ini adalah karya Arumi E, seorang lulusan arsitektur kelahiran Jakarta tanggal 6 Mei. Mba Arumi sangat senang menekuni dunia menulis dan hasil karyanya yang berupa cerpen remaja dan cerpen anak banyak dimuat di berbagai majalah nasional. Selain senang menonton film drama romantis dan serial detektif, Arumi suka juga mendengarkan musik The Beatles loh!
Tahajud Cinta di Kota New York (Zettu), Jojoba (DeTeens), Amsterdam Ik Hou Van Je (Grasindo), Monte Carlo (Gagas Media), Cinta Valenia (Elex Media), Eleanor (GPU) adalah beberapa novel beliau yang telah terbit. Dan suatu saat nanti pemilik twitter @rumieko ini berharap bisa berkunjung ke negara-negara yang menjadi setting novel-novelnya.
~ ◊◊◊ ~


Judul Buku : Merindu Cahaya de Amstel
Penulis : ARUMI E
Jenis Buku : Romance Islami
Desain Cover : Shutterstock & Suprianto
Editor : Donna Widjajanto
Tata letak isi : Fajarianto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Tahun 2015
Tebal Buku : 276 halaman
ISBN : 978-602-03-2010-6
Reward Giveaway Merindu Cahaya de Amstel di ridhodanbukunya.wordpress.com
02 – 07 November 2015

“Kita mungkin tak bisa menjadi sempurna, tapi selalu ada kesempatan menjadi lebih baik.” 


~ Sinopsis ~

Cahaya mentari sore menciptakan warna keemasan di permukaan Sungai Amstel. Mengingatkan Nicolaas van Dijk, mahasiswa arsitektur yang juga fotografer, pada sosok gadis Belanda dengan nama tak biasa, Khadija Veenhoven. Gadis yang terekam kameranya dan menghasilkan sebuah foto “aneh”.
Rasa penasaran pada Khadija mengusik kenangan Nico akan ibu yang meninggalkannya saat kecil. Tak pernah terpikir olehnya untuk mencari sang ibu, sampai Khadija memperkenalkannya pada Mala, penari asal Yogya yang mendapat beasiswa di salah satu kampus seni di Amsterdam.
Ditemani Mala, Nico memulai pencariannya di tanah kelahiran sang ibu. Namun Pieter, dokter gigi yang terpikat pada Mala, tak membiarkan Nico dan Mala pergi tanpa dirinya. Dia menyusul dan menyelinap di antara keduanya.
Tatkala Nico memutuskan berdamai dengan masa lalu, seolah Tuhan belum mengizinkannya memeluk kebahagiaan. Dia didera kehilangan dan rasa kecewa itu dia lampiaskan pada Khadija yang telah mengajarinya menabur benih harapan.
Kembali Nico mencari jawaban. Hingga sinar yang memantul di permukaan Sungai Amstel menyadarkannya. Apa yang dicarinya ada di kota Amsterdam ini dan sejak awal sudah mengiriminya pertanda. Akankah kali ini Nico berhasil memeluk kebahagiaannya?
~ ◊◊◊ ~

~ My Review ~

Nicolaas Van Dijk adalah pemuda Belanda campuran Indonesia. Mahasiswa arsitektur yang juga fotografer lepas. Nico menyukai street photography. Di jalanan, terkadang dia menemukan sesuatu tak terduga yang menjadi gambar menarik setelah terekam kameranya. Salah satu foto yang menarik perhatiannya adalah foto seorang gadis berkerudung yang sedang duduk membaca buku di rerumputan. Foto itu menjadi tidak biasa karena ada semburat cahaya mengelilingi tubuh gadis itu. Gadis yang tidak sengaja ditabraknya saat ia asyik memotret. Gadis muslim berwajah Eropa.
“Dia bukan sejenis malaikat, kan?” – Nico
(Hal.6)
Karena foto tak biasa itu Nico nekad mencari dan mendatangi gadis itu. Ia memperkenalkan diri dan meminta ijin memotretnya. Namun gadis bernama Khadija itu menatapnya curiga dan menolak dengan tegas. Nico yang penasaran tidak menyerah begitu saja, ia malah mengambil foto Khadija diam-diam. Dan ternyata di foto berikutnya tidak ada cahaya aneh pada foto Khadija.
“Aku penasaran kenapa kamu tertarik dengan Islam. Sementara aku justru punya pengalaman tidak enak tentang itu.” – Nico
(Hal.23)
Khadija yang ternyata seorang mualaf, mengingatkan Nico pada sosok mamanya yang juga seorang muslim. Mama yang meninggalkannya saat kecil dan memberikannya kenangan pahit yang membuatnya kecewa dan patah hati karena ditinggalkan.
Suatu ketika Nico meminta ijin pada Khadija untuk memuat fotonya di majalah karena ada tema yang cocok dengan foto itu. Namun Khadija tetap keberatan. Khadija malah memperkenalkan Nico dengan Mala, penari asal Yogya. Khadija pun menyarankan Nico memotret Mala. Profil Mala yang seorang penari tradisional Indonesia yang mendapat beasiswa belajar tari kontemporer di Amsterdam pasti menarik untuk dimuat di majalah.
Mengenal Mala kembali mengingatkan Nico pada mamanya yang seorang wanita jawa. Ucapan Mala yang mengatakan kalau Nico merindukan mamanya mengusik batin Nico. Memunculkan perasaan yang selama ini dipendamnya. Dan secara tiba-tiba saja ide untuk ke Indonesia muncul. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.
Dengan ditemani Mala yang kebetulan pulang ke Indonesia untuk menghadiri undangan menari di acara festival tari Internasional di Yogya, Nico pun mencari keberadaan ibunya.
Bagaimana pertemuan Nico dengan ibunya yang sudah berpisah selama enam belas tahun? Dan apa yang terjadi pada Nico ketika akhirnya dia harus kehilangan lagi?
Lalu, bagaimana pesona seorang Khadija sehingga dapat mempengaruhi orang-orang terdekatnya, seperti Mala, Pieter, bahkan Nico?
~ ◊◊◊ ~

~ My Opinion ~

Novel ini berkisah tentang beberapa tokoh diantaranya Nico, Khadijah, Mala, dan Pieter. Walau porsi kisah Nico dan Khadija lebih banyak, cerita tentang Mala dan Pieter juga sangat menarik perhatian. Penggunaan Pov ketiga membuat kita diajak mengenal pribadi dan kehidupan keempatnya lebih dalam. Nico yang memendam kekecewaan sekaligus kerinduan kepada ibunya yang meninggalkannya sejak kecil. Khadija yang karena keputusannya menjadi mualaf membuat hubungannya dengan orangtua dan saudaranya menjadi renggang. Ada juga Mala yang berusaha keras menyelesaikan kuliahnya di Amsterdam dan terpaksa harus jauh dari keluarganya di Indonesia. Dan Pieter, sepupu Khadija, yang karena penasaran akhirnya menemukan cahaya dalam kehidupannya.
Novel ber-setting di Belanda, khususnya Amsterdam ini, membawa kita seperti berjalan-jalan di sana dan mengetahui bagaimana kehidupan orang-orangnya. Kita akan disajikan penggambaran tentang pemandangan senja di tepian Sungai Amstel, suasana di sekeliling Museumplein, juga kegiatan di Gedung Euromuslim Amsterdam. Yang menarik, orang Amsterdam menyukai memakai sepeda sebagai alat transportasi. Selain ke Amsterdam, novel ini juga membawa kita ke Yogya, Jakarta dan Bali, mengikuti perjalanan Nico berburu gambar-gambar yang menarik dan indah.
Selain membawa aku berjalan-jalan ke beberapa tempat, novel ini juga cukup membuat terharu. Di beberapa part aku sempat meneteskan air mata. Tapi aku tidak akan mengungkapkan kisah mana saja yang sukses membuat sesak itu, takut spoiler hehee. Oya, dalam novel ini juga mba Arumi mengenalkan kita dengan beberapa kata/frase/kalimat dalam bahasa Belanda.
Aku baru pertama kali membaca novel karya Mba Arumi, dan aku suka sekali dengan novel ini. Novel bergenre spiritual begini memang selalu membuat hati adem juga menohok diri sendiri. Aku merasa disadarkan ketika membaca kisah seorang Khadija yang baru menjadi mualaf selama 2 tahun, tapi begitu total menjalankan hidupnya sebagai the real muslimah, dari sikapnya, cara berpakaian, sampai konsep pergaulan antar lawan jenis. Sementara aku yang terlahir sebagai seorang muslimah, baru menjalankannya setengah-setengah. Aku dibuat kagum dengan pribadi Khadija dan pesonanya yang dapat membuat orang-orang yang mengenalnya menemukan cahaya dalam kehidupan mereka.
Kalau boleh kritik, menurutku sinopsis di belakang buku terlalu detail. Uraiannya sangat jelas sehingga aku sendiri sudah bisa menebak kemana ceritanya akan bergulir. Walau begitu tetap ada kejutan dalam cerita ini, tentang Pieter terutama, dan aku sangat excited mengikuti kisah Pieter ini. Sementara untuk masalah penulisan novel ini minim typo, aku hanya menemukan tiga kali typo. Good job! Jadi membaca novel ini nyaman sekali tanpa banyak gangguan typo. :D
Oya, aku juga mau berbagi sedikit tentang pengucapan salam. Ketika memasuki rumah, orang muslim selalu mengucapkan ‘assalamualaikum’, dan orang yang mendengarnya wajib menjawab ‘waalaikumsalam’.  Nah jika kita masuk ke dalam rumah yang dalam keadaan kosong dan tidak ada orang yang akan menjawab salam, maka mamaku mengajarkan untuk mengucapkan ‘assalamualaina wa’ala ibadillahis solihin’ sebagai salam. Itu aja sih, semoga bermanfaat.
Ada beberapa kalimat menarik dan penuh makna yang tersebar dalam novel ini, diantaranya:
“Aku seorang yang memandang ke depan. Tidak terpengaruh dengan masa lalu seseorang.”
–Nico- (hal.97)
“Aku tidak akan memaksamu menjalani hidup seperti aku. Karena yang akan menjalani hidupmu adalah dirimu sendiri. Kamu yang paling tahu seperti apa cara hidup yang paling nyaman buatmu.”
 –Khadija- (hal.99)
“Soal dosa atau tidak dosa, Cuma Allah yang berhak menilai.”
“Kita sama-sama menuju kebaikan pelan-pelan.”
“Semua butuh proses. Allah menilai proses yang kamu lalui. Yang penting kamu sudah berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.”
–Khadija- (hal.100)
“Semoga Allah memberi aku kesempatan memperbaiki diri sedikit demi sedikit.”
 –Mala- (hal.100)
“Apa harus ada penjelasannya? Kamu yang bilang sendiri masalah keyakinan adalah hal yang personal. Efeknya berbeda pada setiap orang. Tiap orang punya rasa nyamannya sendiri tentang bagaimana cara menjalani hidup.”
 –Pieter- (hal.162)
“Seriuslah berusaha mewujudkan tekadmu, jangan cuma bermimpi.”
–Nico- (hal.171)
“Kalau kamu sudah punya niat kuat ingin mewujudkan sesuatu, selalu ada jalan untuk mencapainya. Itu law of attraction namanya. Yakinlah dengan keinginanmu.
 –Nico- (hal.184)
Novel ini mengingatkanku kalau sudah lama banget aku tidak membaca novel bertema religi yang selalu sukses menyentuh jiwa dan membangkitkan sisi keimananku yang naik turun, terutama saat membaca cerita tentang Khadija. Novel ini bagus dan layak dibaca siapa saja. Seperti judulnya, Merindu Cahaya De Amstel, semoga pembaca dapat menemukan cahaya dalam hidupnya kembali seperti para tokoh dalam kisah ini.
So, selamat membaca ya! ;)
~ ◊◊◊ ~

“Kita mungkin tak bisa menjadi sempurna, tapi selalu ada kesempatan menjadi lebih baik.”   
( Arumi E )


Salam
Nunaalia ^_^